Antum sedang membaca...
Fiqih Ibadah

Risalah Tentang Sujud Sahwi

Oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin Rohimahulloh

بسم الله الرحمن الرحيم الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، أَمَّا بَعْدُ

Sesungguhnya kebanyakan dari manusia belum memiliki pengetahuan (jahil) didalam masalah sujud sahwi dalam sholat. Dari mereka ada yang meninggalkan sujud sahwi padahal dalam keadaan wajib dan ada juga yang sujud sahwi sebelum salam padahal semestinya dilakukan sesudah salam serta ada juga yang sujud sahwi setelah salam padahal tempatnya adalah sebelum salam.

Oleh karena itu, mengetahui hukum-hukum sujud sahwi adalah sangat penting, lebih-lebih bagi para imam yang diikuti oleh manusia (ketika sholat) dan mereka memegang tanggung jawab dalam mengikuti yang disyariatkan dalam sholat mereka.

Maka aku (syaikh ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, pent.) ingin mempersembahkan kepada saudara-saudaraku sebagian dari hukum-hukum sujud sahwi dalam pembahasan kali ini dalam rangka mengharapkan kepada Allah agar memberikan manfaat pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan aku meminta tolong kepada–Nya taufik.

Defenisi (Makna Sujud Sahwi)
Sujud sahwi adalah dua sujud yang dilakukan oleh orang yang sholat sebagai pengganti dari kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam sholat karena lupa.

Sebab-sebab Sujud Sahwi
Sebab-sebab sujud sahwi ada tiga yaitu az ziyadah (menambah), an naksh (mengurangi) dan as-syak (ragu-ragu).

1. Az-Ziyadah (Menambah) Apabila seorang yang sholat menambah didalam sholatnya berdiri, duduk, ruku atau sujud dengan sengaja, maka batallah sholatnya. Dan jika dia lakukan hal itu karena lupa dan tidak ingat bahwa dirinya telah menambah sampai selesai sholat maka tidak lain dia harus sujud sahwi dan sholatnya sah. Dan jika ingatnya pada pertengahan (sholat) maka wajib bagi dia untuk kembali pada posisi yang semestinya dan sujud sahwi, maka sholatnya sah.

Contohnya:

  • · Seseorang sholat dzuhur misalnya lima roka’at dan dia tidak ingat bahwa dia telah menambah kecuali ketika dia tasyahhud, maka hendaknya dia menyempurnkan tasyahhudnya dan salam, kemudian sujud sahwi dan salam.
  • · Dan jika dia tidak ingat (bahwa dirinya telah menambah) kecuali setelah salam maka hendaknya dia (langsung) sujud sahwi dan salam.
  • · Dan jika dia mengingat ketika berada ditengah-tengah (roka’at yang dia tambah) maka dia harus duduk seketika itu juga kemudian tasyahhud dan salam kemudian sujud sahwi dan salam.

Dalilnya adalah hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sholat dzuhur lima roka’at maka dikatakan pada beliau; “Apakah telah ditambah sholat?”, Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Memang kenapa?”, Mereka menjawab lagi; “Engkau sholat lima roka’at”, Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sujud dua sujud setelah salam, dalam riwayat lain; Beliau menekuk kedua kakinya dan menghadap Qiblat kemudian sujud dengan dua sujud kemudian salam. (HR. Al-Jama’ah)

Diantara bentuk penambahan dalam sholat adalah melakukan salam sebelum sempurnanya sholat (karena dia telah menambah salam ditengah sholat). Apabila seorang yang sholat, dia salam sebelum sempurnanya sholat dengan sengaja maka batal sholatnya. Tapi jika dia lupa dan tidak ingat kecuali telah lama waktunya, maka dia harus mengulangi sholatnya seketika itu juga. Dan jika dia langsung mengingatnya seperti dua menit atau tiga menit, maka hendaknya dia menyempurnakan sholatnya dan kemudian salam, kemudian sujud sahwi dan salam.

Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sholat dzuhur atau ashar (dengan para shohabat), beliau salam ketika baru dua raka’at kemudian ada yang segera keluar dari masjid sambil mengatakan “shalat telah diqoshor!” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri ke tiang masjid dan bersandar padanya seakan-akan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam marah. Maka bangkitlah seseorang dan berkata; “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah engkau lupa atau engkau telah mengqoshor sholat?”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Aku tidak lupa, tidak juga mengqoshor”. Maka berkata laki-laki itu; “Betul engkau telah lupa”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata pada para shohabatnya, “Benarkah apa yang telah dikatakan?” Para shohabat menjawab; “Benar”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maju dan sholat (menyempurnakan yang tersisa) dari sholatnya kemudian beliau salam, kemudian sujud (sahwi) dengan dua sujud kemudian salam. (Muttafaqun ‘alaihi)

2. An Naksh (Mengurangi)
a. Mengurangi Rukun
Apabila seorang yang sholat mengurangi rukun dari sholatnya, jika rukun tersebut takbirotul ikhrom maka tak ada sholat baginya, baik itu dia tinggilkan karena sengaja atau lupa karena sholatnya tidak ada ikatanya. Akan tetapi jika selain takbiratol ikhrom maka jika dia meninggalkan karena sengaja maka batal sholatnya dan jika dia tinggalkan karena lupa maka:

  1.  Jika dia telah sampai pada roka’at yang berikutnya maka roka’at yang dia tinggalkan rukunnya itu telah batal. Maka hendaklah dia tegakkan rukun berikutnya pada tempatnya.
  2. Dan jika dia belum sampai pada roka’at berikutnya maka baginya wajib kembali pada rukun yang dia tinggalkan kemudian datangkan (kerjakan) rukun tersebut dan apa-apa yang sesudahnya Pada dua keadaan diatas wajib untuk melakukan sujud sahwi setelah salam.

Contohnya:
· Seorang lupa sujud yang kedua pada roka’at pertama, lalu dia mengingatnya pada waktu duduk diantara dua sujud pada roka’at kedua maka gugurlah roka’at yang pertama dan dia kerjakan roka’at kedua pada tempatnya dan dia anggap roka’at kedua tersebut sebagai roka’at yang pertama. Kemudian dia sempurnakan sholatnya dan salam, kemudia sujud sahwi kemudian salam. ·

Contoh lain: Seorang yang lupa sujud kedua pada roka’at pertama dan dia mengingatnya ketika telah bangkit dari ruku’ (i’tidal) pada roka’at yang kedua maka ketika itu dia harus kembali pada duduk diantara dua sujud dan sujud yang kedua (yang ditinggalkan tadi) kemudian menyempurnakan sholat dan salam, kemudian sujud sahwi dan salam.

b. Mengurangi Wajib
Apabila seorang yang sholat, dia mengurangi kewajiban dari kewajiban-kewajiban sholat dengan sengaja maka batallah sholatnya. Adapun jika mengurangi karena lupa dan dia mengingatnya sebelum terpisah tempatnya dari sholat maka dia datangkan yang kurang tadi, maka tidak masalah. Adapun jika mengingatnya setelah terpisah tempatnya tapi belum sampai pada kewajiban berikutnya maka hendaknya dia langsung kembali dan mengerjakan yang dia tinggalkan tadi kemudian menyempurnakan sholatnya dan salam kemudian sujud sahwi dan salam. Dan jika dia mengingatnya adalah setelah sampai pada kewajiban yang berikutnya maka gugurlah, tidak perlu dia kembali pada (kewajiban-kewajiban sholat yang dia tinggalkan tadi) kemudian dia meneruskan sholat dan sujud sahwi sebelum salam.

Contohnya:

  1. Seseorang telah bangkit dari sujud yang kedua pada roka’at kedua untuk berdiri melakukan roka’at ketiga, dia lupa tasyahhud awal, kemudian dia ingat sebelum bangkit, maka dia harus duduk kemudian tasyahhud, kemudian menyempurnakan sholatnya maka yang demikian ini tidak ada masalah.
  2. Jika dia mengingatnya setelah bangkit (belum sempurna bangkitnya) maka dia harus duduk kembali dan tasyahhud (awal) kemudian menyempurnakan sholat dan salam, kemudian sujud sahwi dan salam.
  3. Jika dia mengingatnya setelah sempurna berdirinya (pada roka’at ketiga) maka gugurlah tasyahhud awal tadi dan tidak boleh kembali padanya, kemudian dia sempurnakan sholatnya dan sujud sahwi sebelum salam.

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari rahimahullah dan lainnya dari Abdullah bin Bukhainah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sholat dzuhur (dengan para shohabat), maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit pada dua roka’at yang kedua (sempurna bangkitnya pada roka’at yang ketiga) dan beliau tidak duduk (untuk tasyahhud awal), maka manusia pun bangkit bersama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sampai ketika selesai sholat dan manusia menunggu salam beliau, (ternyata) beliau bertakbir (dan beliau duduk) untuk sujud sahwi sebelum salam, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam salam.

3. Ragu-ragu (As-Syak)
As-Syak adalah ragu-ragu antara dua perkara manakah yang terjadi dan as-syak ini tidak lepas dari tiga perkara dalam ibadah:

  • Keadaan pertama: Jika semata-mata wahm, tidak ada kenyataannya seperti was-was.
  • Keadaan kedua: Jika sering terjadi pada seseorang, sekiranya dia tidak melakukan ibadah kecuali terjadi keragu-raguan.
  • Keadaan ketiga: Apabila telah selesai melakukan ibadah, maka keraguan bentuk ini tidak perlu dipedulikan.

Contohnya: Seseorang sholat dzuhur, maka ketika selesai sholat, dia ragu-ragu apakah dia sholat tiga roka’at atau empat roka’at, maka dia tidak berpaling dari keraguan ini kecuali dia betul-betul yakin bahwa dia tidak sholat kecuali tiga roka’at, maka dia harus menyempurnakan sholatnya jika waktunya dekat, kemudian salam dan sujud sahwi dan salam. Akan tetapi jika dia mengingatnya setelah waktu yang lama maka dia harus mengulangi sholatnya kembali. Kemungkinan (ragu-ragu) didalam sholat ada dua keadaan:

  • Keadaan pertama: Jika ada yang lebih jelas baginya dari salah satu dari dua keadaan maka hendaknya dia melakukan yang jelas bagi dia kemudian menyempurnakan sholat dan salam kemudian sujud sahwi dan salam.
    Contohnya: seseorang sholat dzuhur, kemudian dia ragu-ragu roka’atnya, apakah dua atau tiga, akan tetapi lebih jelas bagi dia bahwa dia telah melakukan tiga roka’at, maka dia jadikan hal tersebut tiga roka’at kemudian dia datangkan sesudahnya satu raka’at (lagi) dan salam, kemudian sujud sahwi dan salam.
    Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan didalam Al-Bukhari rahimahullah, Muslim rahimahullah dan lainnya, dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إِذَاشَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَتَحَرَّاصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْه ِ ثُمَّ لِيُسَلِّمُ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجَدَتَيْنِ“Apabila salah seorang dari kalian ragu-ragu dalam sholatnya maka hendaknya dia pilih yang benar kemudian sempurnakan sholat dan salam, kemudian sujud sahwi dua kali dan salam” (Lafaz ini dari Al-Bukhari)
  • Keadaan kedua: Yaitu dia tidak jelas antara dua perkara (tidak bisa menentukan-pent) maka hendaknya dia yakin dengan yang lebih sedikit kemudian menyempurnakan sholat dan sujud sahwi (sebelum salam) kemudian salam.
    Contohnya adalah seorang sholat ashar kemudian dia ragu-ragu apakah dia telah mengerjakan dua atau tiga roka’at dan tidak bisa jelas baginya antara dua atau tiga maka hendaknya dia jadikan hal tersebut dua raka’at kemudian tasyahhud awal dan mengerjakan dua (roka’at) sesudahnya dan sujud sahwi kemudian salam.
    Dalilnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:إِذَاشَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِكَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحْ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجَدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَاِنْكَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ
    صَلَاتَهُ وَإِنْكَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيْمًا لِلشَّيْطَانِ“Apabila seorang diantara kalian ragu dalam sholatnya, dia tidak tahu tiga atau empat roka’at, maka hendaknya dia menepis keraguanya dan membangunnya diatas yakin kemudian hendaknya dia sujud dengan dia sujud sebelum salam, maka jika seandainya dia telah melakukan sholat lima roka’at maka akan menjadi syafaat sholatnya, dan jika sia telah menyempurnakan empat roka’at maka akan menjadi penghinaan terhadap syaitan”.
    Faedah: Berkata imam As-Syaukani rahimahullah, “seluruh hadits-hadits yang menjelaskan tentang sujud sahwi baik setelah salam atau sesudah salam, menunjukkan bahwa sujud sahwi ada dua bentuk dan sepantasnya melakukannya sesuai dengan nash yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (baik ucapan maupun perbuatan, pent.). Kalau sebelum salam maka dilakukan sebelum salam dan kalau setelah salam maka dilakukan setelah salam. Adapun yang tidak terdapat padanya nash dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka boleh memilih, sebelum salam atau setelah salam dan kedua-duanya sunnah. Hal ini dikuatkan oleh syaikh Al Albani rahimahullah.

    • Maroji’ (kitab rujukan):
    • Rasalah fi Sujudissahwi karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah
    • Al Mausu’ah Al fiqhiyyah Al Muyassaroh fi Fiqhil Kitabi wa Sunnatil Mutahharoh karya Syaikh Husain bin ‘Audah Al ‘Awaayisyah hafizahullah
      *****
      Sumber: Booklet Dakwah Al-Ilmu. Edisi: Jum’at, 18 Dzulqo’idah 1430 H/6 November 2009 M. Diterbitkan oleh: Pondok Pesantren Minhajus Sunnah Kendari. Jl. Kijang (Perumnas Poasia) Kelurahan Rahandouna, Kecamatan Poasia, Kota Kendari.http://salafykendari.com/Fiqih/risalah-tentang-sujud-sahwi.html

    ———————————————————————————————————————————————————
    *Tambahan dari Admint ahlussunnahunpad.wordpress.com
    Bacaan Ketika Sujud Sahwi

    Dikatakan oleh Al Ustadz Dzulqarnain “Adapun doa sujud sahwi kami tidak mengetahui ada doa yang khusus pada sujud sahwi tersebut mungkin karena itu Imam Ibnu Qudamah berkata bahwa yang dibaca dalam sujud sahwi adalah sama dengan apa yang dibaca pada sujud sholat.”

    (Sumber: baca: Al-Mughny 2/432-433,  http://an-nashihah.com/ judul: Bacaan Doa Sujud Tilawah dan Sujud Sahwi)
    http://qurandansunnah.wordpress.com/2010/05/13/bacaan-doa-sujud-tilawah-dan-sujud-sahwi/

    وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْنَ

Discussion

7 thoughts on “Risalah Tentang Sujud Sahwi

  1. mau tanya, kalo ,misalkan kita lupa melakukan tasyahud awal..berarti kasusnya sama dengan yang meninggalkan rukun ya?afwan , saya masih kurang paham

    Posted by someone | January 19, 2012, 10:00 am
    • oh iya..adakah bacaan khusus ketika sujud sahwi?

      Posted by someone | January 19, 2012, 10:04 am
      • Bacaan Ketika Sujud Sahwi
        Dikatakan oleh Al Ustadz Dzulqarnain “Adapun doa sujud sahwi kami tidak mengetahui ada doa yang khusus pada sujud sahwi tersebut mungkin karena itu Imam Ibnu Qudamah berkata bahwa yang dibaca dalam sujud sahwi adalah sama dengan apa yang dibaca pada sujud sholat.”

        Posted by ahlussunnahunpad | January 22, 2012, 10:57 am
    • yang pertama tasyahud awal bukan lah rukun sholat, melainkan wajib sholat

      ada beberapa keadaan seperti dijelaskan syaikh,,
      1. Seseorang telah bangkit dari sujud yang kedua pada roka’at kedua untuk berdiri melakukan roka’at ketiga, dia lupa tasyahhud awal, kemudian dia ingat sebelum bangkit, maka dia harus duduk kemudian tasyahhud, kemudian menyempurnakan sholatnya maka yang demikian ini tidak ada masalah.
      2. Jika dia mengingatnya setelah bangkit (belum sempurna bangkitnya) maka dia harus duduk kembali dan tasyahhud (awal) kemudian menyempurnakan sholat dan salam, kemudian sujud sahwi dan salam.
      3. Jika dia mengingatnya setelah sempurna berdirinya (pada roka’at ketiga) maka gugurlah tasyahhud awal tadi dan tidak boleh kembali padanya, kemudian dia sempurnakan sholatnya dan sujud sahwi sebelum salam.

      Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari rahimahullah dan lainnya dari Abdullah bin Bukhainah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sholat dzuhur (dengan para shohabat), maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit pada dua roka’at yang kedua (sempurna bangkitnya pada roka’at yang ketiga) dan beliau tidak duduk (untuk tasyahhud awal), maka manusia pun bangkit bersama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sampai ketika selesai sholat dan manusia menunggu salam beliau, (ternyata) beliau bertakbir (dan beliau duduk) untuk sujud sahwi sebelum salam, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam salam.

      Posted by ahlussunnahunpad | January 22, 2012, 10:54 am
  2. kalo lupa tasyahud awal, sujud syahwinya dilakukan setelah salam, masih syah kah sholatnya, mohon pencerahannya makasih….

    Posted by shinta | January 13, 2013, 1:59 am
  3. kalo lupa tasyahud awal setelah salam gimana maaf….

    Posted by shinta | January 13, 2013, 2:11 am
  4. Artikel ini cukup lengkap, karenanya perlu dibaca dan dipahami sebagai pedoman. Mohon ijin copy, ya? Syukron.

    Posted by mukhayat | February 15, 2013, 6:09 am

Beri komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

silakan mendownload

TRANSLATE THIS BLOG!

Statistik Blog

  • 70,068 kunjungan

Arsip

%d bloggers like this: